Header Ads

Politik dan Sikap “Malu” Presiden Jokowi


HargaArtikel
Deskripsi Produk
Politik dan Sikap “Malu” Presiden Jokowi - Ada pernyataan menarik menurut saya ketika presiden Jokowi menolak membahas usulan kenaikan gaji dan tunjangan kepresidenan, anggota dewan dan beberapa pejabat Negara. Yang menarik bagi saya bukanlah pada ketidak sediaan Pak presiden menaikkan gaji dan tunjangan. Akan tetapi pada pernyataan beliau, "Ha-ha-ha. Jangan aneh-aneh. Lah wong ekonomi melambat kayak gini, malu bicara gaji, tunjangan," Pernyataan ini saya kutip dari berita portal Kompas[dot]com.


Sikap “malu membahas” itu yang menarik. Terkadang ditengah tuntutan segala kebutuhan kita, ditengah berbagai segala upaya, ikhtiar, dan juga semangat kita meraih impian, kadang etensitas kemaluan kita juga tanpa sadar tersandera, terkurung bahkan nyaris kita lupakan. Dengan segala cara, penuh semangat, bakan cenderung serampangan kita menghalalkan banyak cara yang bisa saja melukai muka kita sendiri.

Contoh mudah, begitu semangatnya kita mengejar kesejahteraan, lalu menghalalkan “uang amplop” demi mendapatkan status PNS. Beberapa tetangga saya dari “anak orang kaya” berbuat demikian. Sebagian bercerita apa adanya kalau tidak menggunakan “jasa orang dalam” susah dapat diterima. Saya yang mendengarnya saja “malu”.

Ada juga beberapa pengguna media sosial yang juga kehilangan “kemaluannya”. Sering saya menjumpai beberapa pengguna facebook, twitter, google+, dan lain-lainnya memajang secara fulgar bagian tubuh yang sangat privasi, untuk dipamerkan di ribuan pasang mata yang tentu saja bukan muhrimnya. Bahkan mereka dengan secara vulgar menulis: “ini punyaku, mana punyamu?”
Kalau yang dipajang foto cewek, sebagai laki-laki normal saya tersenyum simpul dan sedikit “menikmati”. Akan tetapi kalau yang dipajang itu milik cowok, tentu saja jadi risih, jijik dan sangat memalukan.

Terkadag pula kita disuguhi kasus-kasus yang membuat “kemaluan” kita dipertanyakan. Ada pemuka agama, pendidik dan tokoh tertentu yang tega melampiaskan hasratnya kepada anak didik. Ada pula pejabat yang senyum-senyum saat digelandang  ke KPK. Ada juga kasus pencurian ranting kayu, pencurian 3 buah semangka, atau satu mangkuk sup yang dituduhkan kepada nenek-nenek, lalu diperkarakan di kepolisian. Saya saja yang baca berita malu, lha kok ada-ada saja kasus seperti  ini. Semua sepeti “dagelan” saja. Selain tidak patut, menjengkelkan, bikin geli, juga melukai empati dan pri kemanusiaan.

Masihkah Kita Punya Malu?

Sebagai manusia, kita semua sejujurnya masih memiliki ribuan tabiat yang tidak ingin kita lakukan, karena malu. Namun kini batasan-batasan kemaluan itu semakin bias, dikarenakan ada pemahaman umum yang telah menjadi lumrah, dimana persoalan kemaluan tidak lagi bersifat public, akan tetapi lebih pada urusan personal.

Para orang tua merasa malu jika anaknya ketahuan melakukan perbuatan diluar batas akibat pergaulan anak muda, seks bebas. Akan tetapi ada juga sebagian orang tuayang acuh saja dan menganggap wajar pergaulan ini. Alasannya sederhana, zaman memang telah berubah. Begitu katanya.

Ada sebagian orang yang sangat malu pada tindakan-tindakan yang dianggap melewati batas dan norma sosial. Mereka sangat malu dan sangat menjaga berbagai batasan yang ada dengan berbagai pemikiran yang mendasarinya. Sebagian besar adalah dikarenakan patuh pada sakralitas aturan agama. Bahasa kerennya sekarang menjadi Manusia Syari’ah. Mereka tidak hanya malu dihadapan manusia. Pertimbangan lainnya adalah mereka juga menjaga kemaluannya di hadapan sang Pencipta.

Apapun dasarnya, rasa malu adalah bagian penting identitas dan etensitas manusia. Rasa malu membedakan manusia dengan makhluk lain. Bisa jadi rasa malu didasarkan pada ketuhanan, bisa juga didasarkan pada sebagai makhluk social.Tentu saja kita akan malu jika di atas wajah kita terbasut berbagai cerita keburukan, seperti penjahat, pencuri, pelacur, pembunuh, pemerkosa, koruptor, tidak pernah empati, dan lain sebagainya. Tergantung sejauh mana bagian rasa malu kita masih “tersisa”.

Rasa Malu dan Politik

Terlepas apakah rasa malu yang diutarakan Pak Presiden Jokowi adalah rasa malu yang sebenarnya. Maksud saya benar-beanr malu membicarakan, membahas dan juga dibarengi dengan menolak kenaikan tunjangan dan gaji tersebut. Atau sebatas “manis bibir”, malu mengungkapkan akan tetapi dibalik itu menyutujuinya.

“Rasa malu” yang tidak jujur hanyalah bagian dari citra politik yang ingin dibangun. Akan tetapi senditifitas Pak Jokowi dengan mengungkapkan “rasa malu” dengan berempati pada kondisi perekonomian Indonesia yang tengah melemah saat ini patut kita paresiasi. Semoga “rasa malu” tersebut bukan komoditas politik semata.

Penulis: Faqih Al Asy’ari
Admin. Owner: reallycover[dot]com.  fortcover[dot]net.  Eljuwashop[dot]com fortcover[dot]com
Produsen dan Agen Cover Motor dan Cover Mobil
HP. 085791939313

Politik dan Sikap “Malu” Presiden Jokowi - Ada pernyataan menarik menurut saya ketika presiden Jokowi menolak membahas usulan kenaikan gaji dan tunjangan kepresidenan, anggota dewan dan beberapa pejabat Negara. Yang menarik bagi saya bukanlah pada ketidak sediaan Pak presiden menaikkan gaji dan tunjangan. Akan tetapi pada pernyataan beliau, "Ha-ha-ha. Jangan aneh-aneh. Lah wong ekonomi melambat kayak gini, malu bicara gaji, tunjangan," Pernyataan ini saya kutip dari berita portal Kompas[dot]com.


Sikap “malu membahas” itu yang menarik. Terkadang ditengah tuntutan segala kebutuhan kita, ditengah berbagai segala upaya, ikhtiar, dan juga semangat kita meraih impian, kadang etensitas kemaluan kita juga tanpa sadar tersandera, terkurung bahkan nyaris kita lupakan. Dengan segala cara, penuh semangat, bakan cenderung serampangan kita menghalalkan banyak cara yang bisa saja melukai muka kita sendiri.

Contoh mudah, begitu semangatnya kita mengejar kesejahteraan, lalu menghalalkan “uang amplop” demi mendapatkan status PNS. Beberapa tetangga saya dari “anak orang kaya” berbuat demikian. Sebagian bercerita apa adanya kalau tidak menggunakan “jasa orang dalam” susah dapat diterima. Saya yang mendengarnya saja “malu”.

Ada juga beberapa pengguna media sosial yang juga kehilangan “kemaluannya”. Sering saya menjumpai beberapa pengguna facebook, twitter, google+, dan lain-lainnya memajang secara fulgar bagian tubuh yang sangat privasi, untuk dipamerkan di ribuan pasang mata yang tentu saja bukan muhrimnya. Bahkan mereka dengan secara vulgar menulis: “ini punyaku, mana punyamu?”
Kalau yang dipajang foto cewek, sebagai laki-laki normal saya tersenyum simpul dan sedikit “menikmati”. Akan tetapi kalau yang dipajang itu milik cowok, tentu saja jadi risih, jijik dan sangat memalukan.

Terkadag pula kita disuguhi kasus-kasus yang membuat “kemaluan” kita dipertanyakan. Ada pemuka agama, pendidik dan tokoh tertentu yang tega melampiaskan hasratnya kepada anak didik. Ada pula pejabat yang senyum-senyum saat digelandang  ke KPK. Ada juga kasus pencurian ranting kayu, pencurian 3 buah semangka, atau satu mangkuk sup yang dituduhkan kepada nenek-nenek, lalu diperkarakan di kepolisian. Saya saja yang baca berita malu, lha kok ada-ada saja kasus seperti  ini. Semua sepeti “dagelan” saja. Selain tidak patut, menjengkelkan, bikin geli, juga melukai empati dan pri kemanusiaan.

Masihkah Kita Punya Malu?

Sebagai manusia, kita semua sejujurnya masih memiliki ribuan tabiat yang tidak ingin kita lakukan, karena malu. Namun kini batasan-batasan kemaluan itu semakin bias, dikarenakan ada pemahaman umum yang telah menjadi lumrah, dimana persoalan kemaluan tidak lagi bersifat public, akan tetapi lebih pada urusan personal.

Para orang tua merasa malu jika anaknya ketahuan melakukan perbuatan diluar batas akibat pergaulan anak muda, seks bebas. Akan tetapi ada juga sebagian orang tuayang acuh saja dan menganggap wajar pergaulan ini. Alasannya sederhana, zaman memang telah berubah. Begitu katanya.

Ada sebagian orang yang sangat malu pada tindakan-tindakan yang dianggap melewati batas dan norma sosial. Mereka sangat malu dan sangat menjaga berbagai batasan yang ada dengan berbagai pemikiran yang mendasarinya. Sebagian besar adalah dikarenakan patuh pada sakralitas aturan agama. Bahasa kerennya sekarang menjadi Manusia Syari’ah. Mereka tidak hanya malu dihadapan manusia. Pertimbangan lainnya adalah mereka juga menjaga kemaluannya di hadapan sang Pencipta.

Apapun dasarnya, rasa malu adalah bagian penting identitas dan etensitas manusia. Rasa malu membedakan manusia dengan makhluk lain. Bisa jadi rasa malu didasarkan pada ketuhanan, bisa juga didasarkan pada sebagai makhluk social.Tentu saja kita akan malu jika di atas wajah kita terbasut berbagai cerita keburukan, seperti penjahat, pencuri, pelacur, pembunuh, pemerkosa, koruptor, tidak pernah empati, dan lain sebagainya. Tergantung sejauh mana bagian rasa malu kita masih “tersisa”.

Rasa Malu dan Politik

Terlepas apakah rasa malu yang diutarakan Pak Presiden Jokowi adalah rasa malu yang sebenarnya. Maksud saya benar-beanr malu membicarakan, membahas dan juga dibarengi dengan menolak kenaikan tunjangan dan gaji tersebut. Atau sebatas “manis bibir”, malu mengungkapkan akan tetapi dibalik itu menyutujuinya.

“Rasa malu” yang tidak jujur hanyalah bagian dari citra politik yang ingin dibangun. Akan tetapi senditifitas Pak Jokowi dengan mengungkapkan “rasa malu” dengan berempati pada kondisi perekonomian Indonesia yang tengah melemah saat ini patut kita paresiasi. Semoga “rasa malu” tersebut bukan komoditas politik semata.

Penulis: Faqih Al Asy’ari
Admin. Owner: reallycover[dot]com.  fortcover[dot]net.  Eljuwashop[dot]com fortcover[dot]com
Produsen dan Agen Cover Motor dan Cover Mobil
HP. 085791939313

Tidak ada komentar

reallycover.com

reallycover.com